Hard Selling Vs Soft Selling. apa, dan kapan menggunakannya

Hard selling soft selling

Saat awal berjualan online, kamu mungkin sering mendengar nasehat untuk menggunakan iklan dalam bentuk soft selling, apalagi jika kamu menggunakan media sosial sebagai lapak untuk berjualan. 

Sifat dasar media sosial yang merupakan platform untuk menjalin pertemanan, biasanya dijadikan alasan, mengapa jualan di media sosial sebaiknya menggunakan bentuk soft selling. 

Alasan lainnya, karena kita semua, sebetulnya tidak suka menjadi objek pemasaran produk/ jasa. Sudah, itu saja. 

Tapi mengapa sudah berbulan-bulan menggunakan iklan soft selling, penjualan tidak pernah menunjukkan hasil yang memuaskan? Dimana letak kesalahannya? 

Nah, sebelum kita kupas habis kapan menggunakan iklan hard selling dan soft selling, kita bahas dulu yuk, apa itu hard selling dan soft selling?

Hard selling Vs Soft Selling 

Hard selling soft selling

Ada beberapa aspek yang mempengaruhi, mengapa sebuah iklan disebut dengan hard selling atau soft selling. Tapi yang menjadi paling kuat diantara keduanya adalah timing aka. waktu. 

Soft selling biasanya memiliki kerangka waktu yang panjang; artinya, si pembuat iklan tidak mengharapkan penjualan langsung dari iklan yang dia buat. Sementara hard selling, biasanya ditujukan karena pembuat iklan menginginkan terjadinya penjualan segera (konversi)

Untuk lebih jelasnya, berikut pengertian dan perbedaan hard selling dan soft selling

Hard Selling

Sifat iklan ini biasanya langsung, menunjukkan apa yang dijual, mengajak pembeli untuk melakukan pembelian. Konsumen atau target market dari penjualan akan langsung diajak untuk memperhatikan nilai lebih dari produk/ jasa yang dijual dan bagaimana produk/ jasa tersebut memenuhi kebutuhan target konsumen. 

Hard selling seringkali biasanya hanya mengandalkan satu jenis promosi penjualan. Jenis promosi ini biasanya hanya memberi dua pilihan pada konsumen; sekarang atau tidak sama sekali. 

Soft selling 

Berbeda dengan hard selling yang mengharuskan konsumen berpikir cepat, soft selling lebih mengandalkan pada proses penjualan, misalnya dengan melakukan persuasi dan konsistensi melakukan hal yang sama, hingga target konsumen tergerak untuk membeli. 

Inilah yang menjadi alasan, mengapa soft selling butuh waktu untuk mencapai penjualan yang sukses. 

Hard sell Vs Soft sell, mana dan kapan sebaiknya kamu menggunakannya

Hard selling soft selling

Banyak marketer atau sales yang mengkhususkan diri pada salah satu jenis penjualan tersebut. Tapi marketer yang paling baik, adalah mereka yang bisa membuat dan menggunakan keduanya. Alasannya sederhana saja, ada kala hard selling bisa menghasilkan penjualan yang fantatis, seperti juga soft selling. 

Perbedaan hard selling dan soft selling tidak hanya pada filosofinya, tapi juga praktisnya. Dan business owner, kamu bisa memperoleh keuntungan yang besar selama paham bagaimana dan kapan menggunakannya. 

Strategi hard selling, kapan menggunakannya?

Hard selling soft selling

Ada banyak cara menggunakan hard selling, misalkan pada iklan, leaflet, email, sales pitch (tawaran penjualan) atau dalam negosiasi. Hard selling ini sifatnya lebih tradisional, dan sering mendapat “reputasi negatif”, karena sifatnya yang langsung dan sering membuat orang lain yang melihat iklan tersebut tidak nyaman. 

Broadcast WA yang berisi tawaran pinjaman online, tetangga yang langsung menawarkan jualan sayur dan baju, adalah beberapa contoh iklan hard selling yang sering kita temui sehari-hari. 

Bila iklan tersebut, sesuai dengan kebutuhan kita, atau memang iklannya berada di grup yang tepat, hard selling biasanya tidak akan menjadi masalah. Tapi jujur saja, kalau melihat iklan tersebut setiap hari, atau dari orang yang itu-itu saja, kita sering merasa tidak nyaman juga kan? 

Inilah mengapa reputasi hard selling tidak kunjung membaik. Kabar baiknya, hard selling juga sering menghasilkan penjualan. 

Hard selling memang harus langsung dan mendorong urgensitas kebutuhan produk/ jasa tersebut. Produk yang harganya tidak terlalu mahal, biasanya cocok menggunakan iklan jenis ini. Misalkan produk/ jasa dengan harga diskon (yang biasanya ditawarkan dalam kurun waktu tertentu).

Kamu juga bisa menggunakan hard selling untuk menjual produk yang benar-benar menjadi solusi bagi target market. 

Para ibu yang saat ini sibuk bekerja dari rumah, plus harus mengawal putra-putri mereka belajar, mungkin tidak akan cukup memiliki waktu untuk memasak. Membuat promosi hard selling untuk produk makanan sehat dan siap antar ke rumah kemungkinan bisa menghasilkan penjualan yang baik. 

Tapi ada satu hal yang perlu kamu perhatikan saat menggunakan taktik hard selling ini; pastikan jangan terlalu agresif atau kasar. Cara seperti ini malah bisa merusak citra bisnismu. 

Review pelanggan saat ini sangat berarti, terkadang citra branding bisnis kita bisa menjadi sangat buruk atau baik di tangan mereka. Karena itu, sebaiknya tidak terlalu melebih-lebihkan iklan, dan tetap fokus pada nilai lebih produk/ jasa kamu. 

Soft selling, kapan sebaiknya digunakan?

Pendekatan soft selling saat ini menjadi semakin populer dalam pemasaran. Lihat saja iklan-iklan yang sering kita lihat di layar kaca, hampir sebagian besar memilih menggunakan soft selling untuk menawarkan produk/ jasa mereka. 

Para soft selling enthusiasts, biasanya menggambarkan soft selling sebagai cara menawarkan atau cara berjualan dengan cerdas, intuitif, dan efektif mengikat hati pelanggan dibandingkan hard selling. 

Meski harus diakui juga, sebagian orang menyebut soft selling sebagai pendekatan yang berbahaya, karena si prospek, biasanya tidak merasa jika mereka sedang mendapatkan penawaran. 

Bisnis yang memasukkan layanan after sales (seperti pembuat software, jasa keuangan, jasa pendidikan) sebagai salah satu nilai tambah mereka, biasanya akan menggunakan metode soft selling lebih banyak. 

Soft selling disini, diperlukan karena si pemilik produk/ jasa perlu meyakinkan pelanggan jika mereka memahami benar apa yang mereka jual. 

Soft selling juga akan sangat bermanfaat pada bisnis yang membutuhkan repeat order. Jadi, jika bisnismu sangat bergantung pada loyalitas pelanggan, maka soft selling adalah strategi yang tepat untuk penjualan kamu. 

Soft selling tidak akan berhasil jika kamu membutuhkan penjualan yang cepat, misalnya untuk produk makanan siap santap yang tidak tahan lama, beberapa produk yang ingin kamu jual cepat untuk menyeimbangkan kas keuangan, dan lain sebagainya. 

Bagaimana mengimplementasikan dan contoh hard selling dan soft selling di dalam penjualan 

Hard selling 

Cara paling mudah untuk mengaplikasikan hard selling adalah, kenali dengan baik produk/ jasa yang kamu jual. Hard selling sangat tergantung pada cara kamu menjelaskan apa kelbeihan dan bagaimana produk/ jasa kamuenar-benar membantu calon pelanggan memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan mereka. 

Iklan properti populer seperti “Hari Senin harga Naik”, tawaran SALE dari beberapa brand atau mall ternama, adalah beberapa contoh hard selling dalam penjualan. 

Soft selling 

Kunci dari keberhasilan soft selling adalah planning aka. perencanaan. Iklan soft selling bersifat pendekatan personal kepada konsumen, dan tentu saja, butuh waktu sampai akhirnya menghasilkan penjualan. 

Fokus selalu pada kualitas konten yang kamu buat, tidak hanya sekedar banyak. Dan pastikan konten-konten tersebut tetap berbicara tentang brand dan bisnismu. 

Kamu dapat menemui banyak sekali konten soft selling di Instagram dari akun-akun resmi brand besar di Indonesia. 

Kesimpulan

Hard selling soft selling

Saat membaca uraian di atas, kamu mungkin akan berpikir pendekatan mana yang terbaik untuk bisnismu. 

Jika boleh menyarankan, akan lebih baik jika kamu bisa mengetahui kedua metode tersebut dengan baik. Cobalah lakukan percobaan, dan kamu akan melihat manfaat keduanya pada bisnis mu. 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *