Tips Jualan Laris Manis? Gunakan Bukti Sosial Saja Begini Caranya

Bukti Sosial

Pernah dengar tentang social proof? Ini adalah dasar teori bagaimana pengaruh sosial sangat mempengaruhi keputusan seseorang mengambil tindakan, misalkan melakukan pembelian, mengubah kebiasaan dan lain sebagainya. 

Masih ingat bagaimana sandal swallow tiba-tiba menjadi hits dan harganya melangit hanya karena dipakai Sehun EXO? Atau bagaimana keputusan membeli kamu di e-commerce kesayangan, sangat dipengaruhi oleh review para pembeli sebelumnya. 

Padahal kamu nggak kenal Sehun ataupun para reviewer itu kan? Tapi rasanya kita mantap saja check out atau bangga pakai sandal swallow setelah tahu sandal tersebut dipakai seleb. 

Begitulah, aturan hidup kita, kita cenderung melakukan, atau mempercayai sesuatu hanya karena orang lain melakukan atau mempercayai sesuatu

Social proof juga terjadi dalam pemasaran. Calon konsumen atau pelanggan kamu akan lebih mudah memutuskan membeli jika melihat orang lain melakukan hal sama (misal dengan cek review atau testimoni). 

Bagaimana menggunakan social proof agar jualan makin laris 

Bukti Sosial

Rasa percaya, tidak diragukan lagi, adalah hal mendasar dalam setiap hubungan manusia. Termasuk, tentu saja, dalam melakukan transaksi jual-beli. 

Jadi, jika ingin Jualan lebih laris atau trafik blog B2B kamu lebih ramai, kamu perlu menunjukkan social proof ini di semua platform marketing kamu. 

Perubahan perilaku masyarakat ke arah serba digital, telah memaksa para pemilik bisnis bergerak ke arah yang berbeda.

Para pemilik bisnis ini tidak lagi hanya bisa mengandalkan social proof dari keluarga, teman, atau kenalan. Membangun kepercayaan calon konsumen dan pembeli yang lebih luas, perlu juga dibangun dengan baik. 

Berikut ini cara menggunakan social proof untuk meningkatkan penjualan 

1. Menggunakan review pelanggan 

Bukti Sosial

Saat ingin membeli gadget, sepatu, bahkan sekolah anak pun, kita cenderung bertanya pada orang lain bagaimana  pengalaman mereka menggunakan produk atau layanan tertentu. Dan kemungkinan besar, kita akan lebih banyak mendengar pendapat mereka. 

Para calon pelanggan dan konsumen digital pun tidak jauh berbeda saat membaca review. 

Meski mendengar review dari teman lebih meningkatkan keputusan membeli, tapi membaca review dari orang yang tidak mereka kenal pun juga memberikan efek yang sama. 

Nggambaran mudahnya, coba cek e-commerce langgana kamu, dan lihat bagaimana e-commerce meletakkan tanda bintang, dan review pembeli tidak jauh dari tombol check out. 

Review dan tanda bintang tersebut merupakan petunjuk jika pembeli puas dengan pilihan dan pengalaman belanjanya. 

Beberapa situs juga meletakkan tombol perbandingan (contoh: situs ASUS Indonesia) pada deretan katalog produknya. Tombol seperti ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan calon pelanggan. Karena mereka akan merasa semakin mengenal dan yakin produk mana yang sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Memberi kesempatan pada pelanggan untuk memberikan review produk pada situs akan membantu kamu membangun social proof, untuk pelanggan baru saat pertama menemukan situs bisnismu. 

2. Menggunakan jasa influencer

Bukti Sosial

Media sosial ibarat tambang emas untuk membangun social proof dari pelanggan yang belum pernah mengenal produk atau jasa kamu sebelumnya. 

Dan salah satu cara paling efisien untuk membangun kepercayaan dengan audiens di media sosial adalah, dengan bekerja sama dengan influencer.  

Influencer yang cocok dan bisa membantu kamu membangun social proof setidaknya punya follower minimal 50.000. 

Calon pelanggan kamu biasanya memiliki koneksi tertentu dengan influencer, seiring mereka menonton atau mendengarkan influencer setiap hari. Perlahan mereka pun mulai merasa mengenal influencer selayak teman ngobrol mereka setiap hari. 

Kepercayaan mereka pun perlahan meningkat, dan pendapat mereka lebih penting dibanding pendapat orang lain yang belum pernah mereka dengar atau kenal sedikitpun. 

Pada kondisi inilah, kamu dapat menggunakan influencer untuk membangun social proof dari brand, produk, atau jasa kamu. 

Pastikan influencer yang kamu pilih biasa melakukan komunikasi dengan para followernya. Pilihlah influencer dengan rate engagement yang baik (diatas 2%). Engagement tinggi juga berarti follower si Influencer aktif menanggapi setiap postingan si Influencer. 

3. Bermitra dengan ahli 

Bukti Sosial

Bermitra dengan pakar atau ahli pad kategori produk/ jasa kamu, akan semakin membantumu membangun social proof yang baik. 

Beberapa perusahaan yang bergerak di kategori yang sama, terkadang saling mengadakan kolaborasi untuk mendapatkan lebih besar brand awareness, trafik, atau meningkatkan kepercayaan akan merek masing-masing. 

Contoh mudahnya misalkan kamu adalah pembuat software keuangan untuk UMKM. Nah, kamu bisa mempertimbnagkan untuk bekerjasama dengan seorang financial advisor atau lembaga finance lainnya. Toh, tujuan kalian juga sama kan, menjangkau target audience baru yang concern dengan keuangan mereka? 

4. Menggunakan data statistik

Bukti Sosial

“Bergabunglah dengan 500.000 pengguna Instagram yang sukses menghasilkan uang, cukup dengan modal Hp saja”.

Kamu tentu sering melihat tawaran seperti di atas baik dari iklan di Facebook, saat membuka situs, dan masih banyak lagi. 

Penggunaan angka seperti ini bertujuan untuk memberikan highlight pada memberikan gambaran kepercayaan kepada mereka yang melihat iklan tersebut. 

Penggunaan data seperti ini, menurut Josh Barney, Content Director di Einstein Marketer, sangat cocok untuk meningkatkan kepercayaan dan level penerimaan konsumen, pada produk-produk yang kita tawarkan secara gratis atau produk dengan harga jual miring.

Warning ketika menggunakan social proof untuk meningkatkan penjualan

Ada masa dimana social proof tidak memberikan dampak yang baik untuk penjualan ataupun branding bisnis. 

Coba bayangkan, seandainya ada seseorang yang menawarkan produk Chanel asli di tengah jalan dengan harga standar butik Chanel. Kira-kira kamu percaya nggak, kalau produk tersebut asli? Kemungkinannya kecil, kan? 

Kecuali kamu tahu benar kualitas produk Chanel hanya dengan sekali lirikan mata, kamu nggak akan pernah percaya jika produk yang ditawarkan di jalanan tersebut, betul-betul produk original. 

Begitulah, social proof kadang tidak berlaku untuk produk-produk barang mewah. Coba cek salah satu produk di situs chanel. 

Setiap halaman produk eksklusif ini justru tidak memiliki: 

  • review
  • Jumlah “share” di media sosial
  • Testimonial
  • Pop-up  “Sales”
  • Follower media sosial

Tapi produk ini sangatlah hit, dan selalu jadi dambaan para kaum jet set. 

Artinya, kalau pasar kamu adalah kaum kelas tinggi, atau produk kamu termasuk produk high-end, gunakan social proof hanya untuk menunjukkan “mengapa kamu perlu memilikinya” bukan “sudah berapa orang memilikinya”. Kecuali, hanya kecuali, kalau kamu bisa menemukan orang yang sangat inspirasional dan memiliki pengaruh besar pada kelompok Sultan. 

Oya, satu hal lagi, jangan hanya berikan social proof pada landing page, (atau apapun yang merupakan chanel penjualan kamu), tapi berikan juga environment yang mendukung penjualan tersebut.  

Misalkan penggunaan warna pada kolase instagram kamu, perbaikan headline dan subheadline landing page, dan buatlah konten yang lebih shareable untuk audience mu. 

Kesimpulan

Membangun social proof terbukti mampu meningkatkan penjualan, visibilitas merek, dan lebih banyak koneksi. Dan ada banyak cara untuk membangun social proof, terlebih di zaman serba digital ini. 

Tapi perlu ada satu tujuan yang harus diperhatikan di awal, yaitu tujuan pemasaran apa yang kamu mau, dan kemudian menemukan cara bagaimana membuat konten yang tepat dengan target audience tersebut. 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *